Orang
yang biasa bekerja, tiba-tiba diberhentikan (PHK) tentu
akan banyak menimbulkan kekesalan bagi orang yang bersangkutan. Walau diantara
mereka ada yang di PHK mendapat pesangon yang besar, namun jika tidak
cerdas dalam hal menangani memanage perusahaan nya.Mereka yang terbiasa bergerak dalam hal pekerjaan, ketika
dirumahkan tidak hanya akan mengurangi pendapatnya secara materi,
melainkan mampu membuat dirinya mati secara perlahan. Bagi mereka
yang biasa hidup enak dengan segala fasilitas tempatnya bekerja, maka
status menganggur akan membuat yang bersangkutan dengan mudahnya digoda
oleh kaum syetan. Karena untuk sementara waktu syetan memberikan solusi
pada sang penganggur, perbuatan mereka biasanya akan menimbulkan masalah
social bagi lingkungan yang bersangkutan.
Berkenaan dengan hal tersebut diatas, kiranya hipotesa Harvey Brenner sebagaimana dikutip oleh Rhenald Kasali (Kompas, 1/12), yang menyatakan bahwa setiap 10% kenaikan penganggur, kematian naik sebesar 1,2%, serangan jantung 1,7% dan harapan hidup berkurang 7 tahun. Dapat kita benarkan. Mereka-mereka yang tidak memiliki kesiapan mental, bekal iman dan cadangan keuangan dengan beragama kebutuhan keluarga yang harus diselesaikan dalam perhitungan waktu senantiasa akan mudah tergoda dengan solusi-solusi jalan pintas yang pada umunya cenderung illegal, inkonstitusional, haram atau mubah.
Jika jumlah mereka yang di PHK oleh berbagai perusahaan mayoritas tingkat emosionalnya masih labil, insya allah mereka akan mudah digoda oleh oleh para dajjal untuk melakukan berbagai kegiatan-kegiatan yang mendatangkan uang dan mempercepat estimate goal politik. Sejarah seringkali membuktikan kepada kita semua banyak diantara para penganggur yang tergoda tawaran-tawaran instant seperti ikut undian, makelar, ikut tender demontrasi, teroris atau memanfaatan kesempatan dalam setiap bentuk kesempitan. Yang sedikit agak lebih terhormat, ada diantara mereka yang bergabung dalam partai politik tertentu untuk menjadi caleg, ngambil bagian dalam tender politik dan lain sebagainya.
Dari berita buruk tentang PHK dan pengangguran, kitapun pada pasca resesei ekonomi tahun 1998 dapat khabar gembira bahwa diantara mereka yang kena PHK, banyak diantara dana pesangon tersebut mereka manfaatkan sebagai modal untuk melakukan dagang kaki lima, bisnis home industri, makanan kecil-kecilan. Di palembang bahkan ada diantara tiga orang yang kena PHK menggabungkan pesangon mereka untuk membuat doorsmer kendaraan roda dua, tambal ban dan lover Koran. Setelah berjalan satu tahun, ternyata pendapatan mereka berkembang menjadi tiga kali lipat dari sebelumnya ketika menjadi karyawan di sebuah pabrik. Keberhasilan dalam mengelolah pesangon yang didapat oleh mereka yang kena PHK tentu tidak hanya dialami oleh beberapa orang, melainkan sudah dialami oleh banyak orang yang pernah mengalami PHK. Persoalannya sekarang tergantung pada pengalaman, jaringan dan keberanian berspekulasi yang kita miliki.
Semoga PHK ini tidak membuat kita menjadi manusia penganggur, melainkan mampu merubah kehidupan kita menjadi manusia yang berani menghadapi berbagai macam kenyataan hidup untuk selanjutnya membuat berbagai macam solusi dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan keluarga, tetangga dan lingkungan sosial.
Berkenaan dengan hal tersebut diatas, kiranya hipotesa Harvey Brenner sebagaimana dikutip oleh Rhenald Kasali (Kompas, 1/12), yang menyatakan bahwa setiap 10% kenaikan penganggur, kematian naik sebesar 1,2%, serangan jantung 1,7% dan harapan hidup berkurang 7 tahun. Dapat kita benarkan. Mereka-mereka yang tidak memiliki kesiapan mental, bekal iman dan cadangan keuangan dengan beragama kebutuhan keluarga yang harus diselesaikan dalam perhitungan waktu senantiasa akan mudah tergoda dengan solusi-solusi jalan pintas yang pada umunya cenderung illegal, inkonstitusional, haram atau mubah.
Jika jumlah mereka yang di PHK oleh berbagai perusahaan mayoritas tingkat emosionalnya masih labil, insya allah mereka akan mudah digoda oleh oleh para dajjal untuk melakukan berbagai kegiatan-kegiatan yang mendatangkan uang dan mempercepat estimate goal politik. Sejarah seringkali membuktikan kepada kita semua banyak diantara para penganggur yang tergoda tawaran-tawaran instant seperti ikut undian, makelar, ikut tender demontrasi, teroris atau memanfaatan kesempatan dalam setiap bentuk kesempitan. Yang sedikit agak lebih terhormat, ada diantara mereka yang bergabung dalam partai politik tertentu untuk menjadi caleg, ngambil bagian dalam tender politik dan lain sebagainya.
Dari berita buruk tentang PHK dan pengangguran, kitapun pada pasca resesei ekonomi tahun 1998 dapat khabar gembira bahwa diantara mereka yang kena PHK, banyak diantara dana pesangon tersebut mereka manfaatkan sebagai modal untuk melakukan dagang kaki lima, bisnis home industri, makanan kecil-kecilan. Di palembang bahkan ada diantara tiga orang yang kena PHK menggabungkan pesangon mereka untuk membuat doorsmer kendaraan roda dua, tambal ban dan lover Koran. Setelah berjalan satu tahun, ternyata pendapatan mereka berkembang menjadi tiga kali lipat dari sebelumnya ketika menjadi karyawan di sebuah pabrik. Keberhasilan dalam mengelolah pesangon yang didapat oleh mereka yang kena PHK tentu tidak hanya dialami oleh beberapa orang, melainkan sudah dialami oleh banyak orang yang pernah mengalami PHK. Persoalannya sekarang tergantung pada pengalaman, jaringan dan keberanian berspekulasi yang kita miliki.
Semoga PHK ini tidak membuat kita menjadi manusia penganggur, melainkan mampu merubah kehidupan kita menjadi manusia yang berani menghadapi berbagai macam kenyataan hidup untuk selanjutnya membuat berbagai macam solusi dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan keluarga, tetangga dan lingkungan sosial.